SURAKARTA – Sebuah inovasi sederhana dari tim pengabdian masyarakat Universitas Sebelas Maret (UNS) berhasil memberikan solusi nyata untuk meningkatkan konsentrasi belajar santri. Meja belajar lipat yang dirancang secara ergonomis terbukti mampu meningkatkan durasi fokus belajar hingga 36,43 persen dibandingkan dengan meja konvensional yang biasa digunakan di lingkungan pesantren.
Tim pengabdi yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Wijang Wisnu Raharjo dari Riset Grup Teknologi dan Pemrosesan Material Non Logam melakukan uji coba yang melibatkan lima santri. Hasilnya menunjukkan peningkatan waktu konsentrasi rata-rata dari 264 detik menjadi 359 detik, atau bertambah signifikan selama 95 detik saat menggunakan meja baru.
“Meja ini dirancang dengan tinggi 70 cm sesuai standar ergonomis, menggunakan rangka baja ringan yang kokoh dan permukaan kayu lapis. Kakinya dapat dilipat sehingga sangat fleksibel untuk ruang asrama yang sempit dan multifungsi,” ujar Prof. Wijang.
Keterangan foto: Desain lipat pada meja memungkinkan penyimpanan yang efisien, menjawab tantangan keterbatasan ruang di lingkungan asrama.
Peningkatan konsentrasi tidak hanya dipengaruhi oleh postur tubuh yang lebih baik, tetapi juga oleh stabilitas meja dan aspek psikologis. Menurut Prof. Wijang, para santri yang dilibatkan dalam proses perakitan merasa lebih memiliki dan termotivasi untuk belajar. Bahkan, salah satu santri mencatat peningkatan fokus tertinggi hingga 110 detik (42%), yang mengindikasikan bahwa desain baru ini sangat bermanfaat bagi siswa yang sensitif terhadap ketidaknyamanan lingkungan belajar.
Meskipun hasilnya sangat menjanjikan, tim peneliti menyadari bahwa studi ini masih terbatas pada sampel kecil. Penelitian lanjutan dengan skala lebih besar diperlukan untuk validasi lebih lanjut. Ke depan, tim berencana mengembangkan prototipe ini dengan material yang lebih ringan seperti aluminium serta menambahkan fitur kursi lipat dan penyimpanan terintegrasi.
Inovasi ini dinilai sebagai solusi yang efisien, murah, dan mudah direplikasi untuk meningkatkan sarana pendidikan, khususnya di pesantren dan sekolah dengan keterbatasan ruang serta anggaran.



