Ubah Sampah Jadi Berkah: Riset Grup Teknologi dan Pemrosesan Material Non Logam Bantu Masjid di Karanganyar Raup Rp1 Juta per Bulan dari Sampah Plastik

SURAKARTATim dosen dari Riset Grup Teknologi dan Pemrosesan Material Non Logam Program Studi Teknik Mesin Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta merancang dan membuat keranjang sampah terpilah berbahan rangka baja untuk Masjid Fatimah Ar Royyan di Jongkang, Karanganyar. Inovasi sederhana ini tak hanya membuat lingkungan masjid lebih bersih, tetapi juga membuka sumber pemasukan baru bagi kas masjid. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini digagas oleh Prof. Wijang Wisnu Raharjo bersama empat rekannya, yaitu Prof. Kuncoro Diharjo, Prof. Dody Ariawan, Prof. Wahyu Purwo Raharjo, dan Dr. Bambang Kusharjanta, di bawah skema Program Kemitraan Masyarakat-Hibah Grup Riset (PKM HGR-UNS).

Masjid Fatimah Ar Royyan bukan sekadar tempat salat; masjid ini memiliki aktivitas padat yang menampung puluhan hingga ratusan jamaah serta menaungi tiga lembaga pendidikan sekaligus. Tingginya intensitas kegiatan itu berbanding lurus dengan volume sampah anorganik yang dihasilkan, yang sayangnya masih dikelola secara konvensional. Untuk menjawab persoalan itu, tim UNS merancang keranjang sampah berkapasitas sekitar 2 meter kubik dengan rangka besi siku yang dilas dan dilapisi jaring baja sebagai dindingnya. Setelah rampung, keranjang tersebut dipasang di titik strategis lingkungan masjid, disertai sosialisasi singkat kepada jamaah tentang fungsi dan cara penggunaannya.

Keterangan foto: Instalasi keranjang sampah terpilah (2 m x 1 m x 1 m) di lingkungan masjid. Fasilitas ini dirancang untuk mengoptimalkan pengelolaan sampah plastik menjadi sumber pendapatan kas masjid.

Selama masa pendampingan, tim mencatat bahwa keranjang tersebut rutin terisi penuh dalam waktu rata-rata tiga hari. Sampah plastik yang terkumpul kemudian disalurkan ke pengepul dengan nilai jual Rp100.000 per keranjang penuh. Dengan asumsi keranjang terisi penuh sekitar 10 kali dalam sebulan, ada potensi tambahan pemasukan bagi kas masjid sebesar kurang lebih Rp1.000.000 setiap bulan. Dana ini berpotensi dialokasikan untuk mendukung biaya kebersihan, perawatan sarana, hingga kegiatan sosial-keagamaan lain di masjid, sehingga turut memperkuat kemandirian finansial pengelola masjid.

Selain manfaat ekonomi, kehadiran keranjang sampah terpilah ini juga mengubah kebiasaan jamaah menjadi lebih tertata karena tersedia sarana pembuangan yang jelas. Ke depan, tim menyarankan penambahan keranjang untuk kategori sampah organik dan kertas agar seluruh potensi ekonomi dan lingkungan dari aktivitas masjid bisa dioptimalkan secara menyeluruh.

Program ini menjadi salah satu contoh bagaimana masjid dapat diperluas fungsinya, tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai pusat edukasi lingkungan sekaligus penggerak kemandirian ekonomi berbasis komunitas.

Bagikan:

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp

Kabar Terbaru